Daisypath Friendship tickers
Daisypath Anniversary tickers

Tuesday, 22 May 2012

#untitled

Jejarinya menyentuh bibirku. Hatiku berdebar dalam resah.

"Syh.."

Mata kupejam. Semua ini bagaikan mimpi. Selepas sekian lama, akhirnya dia muncul kembali.

Dan setelah sekian lama aku kembali menatap mata coklat itu. Masih indah seperti dulu. Dalam tenangnya masih lunak seperti dulu.

Semuanya sama, seperti tidak ada yang berubah.

Tiada sepatah kata pun yang bisa tergetus dari bibirku. Sebak, gembira dan sedih mengharu dalam rasaku.

"Why?"

Matanya kurenung. Dia ukir senyum dan tuturkan lagi. "Why?"

"What do you mean?"

Dia ukir segaris senyum lagi sebelum menyambung. "Kenapa perasaan ni masih ada?"

Seperti halilintar, realiti menjamah relung akalku. Mengingatkan aku kembali kenapa kami harus berpisah dulu.

"I don't know..."

Bibirnya mencecah dahiku. "You know this won't last, right?"

Angguk. Pilu.

"I'm not here to ruin your life. I... I just want to see you," bisiknya lembut

Airmata yang dari tadi kuempang akhirnya tumpah. Basah menyembah pipi.

"I want to see if you're happy."

Dalam tangis, aku tunduk dan mengangguk.

"He treats you well?"

"Yes..."

Dia senyum. Khayalan aku kah atau senyuman itu sepertinya dia sedang menelan duri?

"I'm so glad... to hear that..." Kusandarkan kepala di dadanya. Hangat rangkulannya serasa mendamaikan.

Dan seperti diatur, kisah cinta kami berputar. Pertemuan pertama di Subway yang memutikkan perkenalan. Soal-soal yang membawa kepada rasa yang berputik, malangnya kami terputus hubungan. Dan bertemu semula di saat aku bakal meniti bahagia.

Jelasnya, apa yang kami seharusnya ada itu tidak pernah bermula atau berakhir.

Cinta kah itu kalau kami sebenarnya tidak pernah bersama dan tidak pernah berpisah?

"I'm leaving for Auckland tomorrow."

Kupandang wajahnya. Pipi yang berceratuk dengan tunggul jambang itu disentuh. Setiap inci wajah itu kupandang. Mahu memahatkannya di dalam hati kemas-kemas.

"Let me go, in peace," bisiknya. Aku angguk, sambil kesat air mata di pipi.

"Enjoy your life baby..."

"Senyummu akan kusimpan jadi azimatku, sepanjang hidup," dia mula berpuisi.

"Rasa ini akan kusimpan, jadi kenangan kita, selamanya," sambungku.

"I'll always love you."

"Always, baby. Always."

_ _ _ _ _ _ _

Dan ketika nukilan itu kubaca, aku tersenyum dalam haru. Itu tulisannya, mengenai kisah kami, kisah cinta yang tidak kesampaian. Masih satu kenangan indah buat aku, dan aku harap dia pun akan tetap mengingatiku.


Sent by DiGi from my BlackBerry® Smartphone

No comments:

Post a Comment